Mengenal Knowledge Skill Attitude dalam Dunia Kerja

Knowledge, skill, attitude. Ketiga komponen ini sudah seharusnya dimiliki oleh setiap orang untuk menunjukkan kompetensinya di dunia kerja. Oleh karena itu, sebelum merekrut karyawan baru HRD perlu meninjau ketiga komponen ini. Berikut pembahasan mengenai teori knowledge skill attitude yang perlu dipahami oleh HRD.

Key Takeaways

  • Knowledge, Skill, Attitude (KSA) adalah suatu deskripsi Joker123 atas kualifikasi yang dimiliki oleh calon kandidat karyawan untuk menggambarkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dalam proses rekrutmen.
  • Terdapat empat cara yang dapat dilakukan untuk membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki knowledge, skill, dan attitude yang baik.

Definisi Knowledge Skill Attitude

Knowledge berarti pengetahuan, skill berarti keterampilan, dan attitude berarti sikap. Knowledge, skill, attitude atau lebih dikenal dengan KSA adalah suatu deskripsi atas kualifikasi yang dimiliki oleh calon kandidat karyawan untuk menggambarkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan dalam proses rekrutmen. Konsep ini akan membantu Human Resources Department (HRD) di suatu perusahaan dalam mengidentifikasi kepribadian calon karyawan.

Menilik sejarahnya, teori kompetensi Knowledge, Skill, Attitude dirancang oleh Benjamin Bloom pada tahun 1956 dalam sebuah sidang American Psychological Association. Dalam komite tersebut dicetuskanlah tiga komponen utama dalam pendidikan, yaitu:

  • Knowledge (Cognitive)
  • Skills (Psychomotor)
  • Attitude (Affective)

KSA umumnya berupa dokumen yang harus disiapkan para kandidat dalam berkas lamaran mereka. Dokumen KSA akan disertakan oleh HRD dalam tahap penentuan calon karyawan baru.

Dalam prakteknya memang, banyak perusahaan yang tidak mengharuskan para pelamar kerja untuk menyisipkan lembar KSA dalam arsip lamaran. Dikarenakan saat ini perusahaan lebih berorientasi pada resume dan Curriculum Vitae pelamar ketika membuka lowongan kerja.

Namun masih ada sejumlah badan usaha yang mensyaratkan KSA sebagai salah satu berkas lamaran yang harus disertakan oleh para pelamar kerja. Jadi ada baiknya Anda membuat dokumen KSA sesuai kepribadian diri.

Komponen Knowledge Skill Attitude

Menurut LinovHR, memiliki 3 komponen utama. Berikut penjelasannya.

1. Knowledge (Cognitive)

Menurut Notoatmodjo (2003), knowledge adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan “What (apa)”.

Pengetahuan didapat setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan yang dimaksud terdiri dari indra penciuman, rasa, dan raba. Pengetahuan merupakan aspek yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior).

Dalam dunia kerja, knowledge merupakan komponen pembangun yang berfokus pada pemahaman karyawan terhadap suatu teori. Segala hal yang terkait komponen ini harus berupa fakta.

Salah satu cara yang bisa digunakan para karyawan untuk membuktikan bahwa dirinya  memiliki suatu ilmu pengetahuan adalah dengan dokumen pendukung seperti ijazah.

Contoh, apabila Anda memiliki pengetahuan di bidang Jurnalistik. Maka, Anda bisa menyertakan ijazah kelulusan di suatu perguruan tinggi jurusan Jurnalistik.

Dengan begitu, pihak perekrut di perusahaan yang Anda lamar akan langsung tahu bahwa Anda memahami pengetahuan di bidang jurnalistik. Di samping itu. Dokumen pendukung  ini membantu perekrut meminimalisir adanya potensi kebohongan atas penguasaan pengetahuan.

2. Skill (Psychomotor)

Menurut Dunette (1976), keterampilan adalah pengembangan pengetahuan yang didapatkan lewat training dan pengalaman dengan melaksanakan beberapa tugas.

Lebih lanjut, Robbins (2000), membagi keterampilan menjadi 4 kategori yaitu:

a. Basic Literacy Skill

Keahlian dasar yang sudah pasti harus dimiliki oleh setiap orang. Misalnya kemampuan membaca, menulis, berhitung serta mendengarkan.

b. Technical Skill

Keahlian secara teknis yang didapat seseorang melalui pembelajaran dalam bidang Teknik. Misalnya keterampilan mengoperasikan komputer dan alat digital lainnya.

c. Interpersonal Skill

Keahlian seseorang untuk menjalin komunikasi dengan orang lain. Contohnya seperti mendengarkan seseorang, memberi pendapat dan bekerja secara tim.

d. Problem-solving

Keahlian seseorang untuk memecahkan masalah dengan menggunakan logikanya.

Melalui unsur keahlian, perekrut dapat lebih mudah menyesuaikannya antara skill kandidat dengan kebutuhan peran di perusahaan. Misalnya, apabila perusahaan membutuhkan seorang desainer grafis. Maka, pihak perekrut dapat memilah para kandidat karyawan  dengan kemampuan yang mendukung sebagai desainer grafis. Hal tersebut dapat berupa keahlian penggunaan software desain seperti Adobe Photoshop dan Adobe Illustrator.

Untuk memperoleh suatu keahlian, seseorang bisa mengikuti program kursus dengan materi yang dibutuhkan. Selanjutnya, untuk membuktikan keterampilan yang dimiliki pelamar kerja bisa menyertakan sertifikat kursus pelatihan. Dengan begitu perekrut bisa memastikan bahwa Anda benar-benar mempunyai keterampilan terkait.

3. Attitude (Affective)

Menurut Thurstone sikap merupakan suatu tingkatan afeksi, baik bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis, seperti: simbol, frase, slogan, orang, lembaga, cita-cita dan gagasan.

Komponen ini tidak kalah penting dengan dua komponen sebelumnya. Pasalnya, attitude yang dimiliki seorang karyawan dapat memengaruhi tingkat kinerja dan produktivitas.

Attitude yang kurang baik, dikhawatirkan dapat menyebabkan penurunan produktivitas. Hal tersebut terjadi lantaran rekan kerja merasa terganggu dengan sikap karyawan yang bersangkutan di lingkungan kantor.

Sebaliknya, dengan merekrut karyawan dengan sikap yang baik, dapat menciptakan suasana kerja yang lebih positif di perusahan. Jadi, penting bagi seorang HRD untuk merekrut calon kandidat pegawai dengan attitude yang baik.

Melansir dari website Binus, ada empat cara yang dapat dilakukan untuk membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki knowledge, skill, dan attitude yang baik.

1. Pelatihan dan Pengembangan

Menurut Cut Zurnali (2004), the goal of training is for employees to master knowledge, skills, and behaviours emphasized in training programs and to apply them to their day-to-day activities.

Hal ini berarti bahwa tujuan dari pelatihan adalah supaya para pegawai dapat menguasai pengetahuan, keahlian dan perilaku yang ditekankan untuk diterapkan dalam aktivitas sehari-hari para karyawan. Selain itu, pelatihan juga memiliki pengaruh yang besar bagi pengembangan perusahaan.

2. Hargai Proses

Menilai hanya pada hasil akhir, dapat berdampak pada psikologi karyawan. Mereka hanya akan berorientasi pada hasil tanpa mempedulikan proses dalam suatu pekerjaan.

Pada akhirnya hal ini dapat meningkatkan persaingan yang tidak sehat antar karyawan. Selain itu memicu timbulnya tindak kecurangan dalam lingkungan pekerjaan.

Maka agar hal tersebut tidak terjadi, sebaiknya penghargaan yang diberikan kepada karyawan adalah berdasarkan usaha dan proses yang dia lakukan dalam rangka mencapai hasil.

3. Refreshing Bersama

Melakukan kegiatan bersama di luar urusan pekerjaan seperti outing, karaoke bersama, perayaan ulang tahun untuk karyawan akan dapat meningkatkan rasa memiliki karyawan terhadap perusahaannya. Tentunya hal ini akan berdampak positif bagi perkembangan perusahaan.

4. Jadilah Panutan

Purwanto (1998) mengatakan bahwa terdapat faktor eksternal yang memengaruhi terbentuknya sikap seseorang. Salah satunya adalah kewibawaan dalam diri seseorang.

Oleh karena itu, jadilah sosok pemimpin yang dapat menjadi panutan bagi karyawan. Tunjukkan bahwa keseimbangan dari knowledge, skill, dan attitude berperan penting untuk kemajuan perusahaan maupun bagi diri Anda sendiri.

Sekian informasi mengenai cara yang dapat dilakukan untuk membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki knowledge, skill, dan attitude yang baik. Untuk mendukung peran human capital dalam meningkatkan kinerja perusahaan. perusahaan bisa mengandalkan Appsensi. Aplikasi absensi online dengan fitur-fitur bermanfaat untuk pengelolaan SDM, dan payroll.

error: Content is protected !!